Followers

Mighty Jacksparrow is an Earth-based sub-intergalactic blogger who enjoys writing and in the same time entertaining his ever-amusing will-kill-to-read fans with sensationally hilarious and at times dramatic musings. This blog offers endless ideas and results; they might be charming most of the times but could be offending in some others. Therefore, it is always noble to remind that if you enjoy the pieces, carry on reading, but if they upset you, do quietly leave like the evening breeze and not like exploding diarrhea, which exactly what you will look like if you ever lose it on me. Enjoy! :D

Wednesday, December 31, 2008

Condolences

Remember Timmy G.?

You can find Timmy G. here.

Suren woke me up this morning. In a hurry he was, and he had me hurried as well, putting on my pants and shirt while he waited outside. I took my phone and keys before I locked the door to join him at the end of the apartment railing, hoping to know about what the hell was going on. As we hurried towards the car park, he told me about it.

"Tim's granddad passed away."

What?

* * *

Timmy G. lived his early childhood until this day with his grandparents, and it was his grandparents who educated the guy with such good manners, intelligence and many other criteria one could point out from a gentleman.

He strove his life and career with guidance from his granddad who was a chemist and a highly educated man. To him, his granddad was always his idol, and even to date he always talk highly about his granddad.

Such a loss.

Condolences from and to The Mutton Curry Gang.


* * *

Timmy was in the car already, waiting for me to drive both of them to Taman Maju's bus station. Calm as clouds, he did not show any emotion at all. Probably not at that time.

I said hi and morning and all formality needs, we moved out from UTP. Things were quiet but we talked in order not to get the awkward emotion got to us.

And soon after, they took off for the funeral scheduled at 1.00pm and the cremation at 4.00pm.

Well, to die out of a fever at the age of 86 doesn't sound bad at all, does it?

Gambar Mana Paling Seksi?

Seksi? Tak ada-lah. Itu cuma perkataan umpan saja. Aku tau kau orang sangap. Ha ha ha.

Berikut adalah gambar-gambar yang diambil di Zoo Negara pada pertengahan 2008. Yang mana paling kamu suka? Sila-sila. Jangan malu-malu. Makcik nak ke dapur dulu, korang borak-borak lah ye.


1. Beetle on the go

Masa tahun baru yang sudah dulu, semua berangan-angan nak maju ke depan. Semua kembangkan sayap dan berharap untuk terbang lebih tinggi. Semangat berkobar-kobar dalam dada, kalau boleh time tu jugak nak terbang!


2. Mr Otter

Kemudian kita mula mencari peluang. Angkat kepala jenguk atas bawah kiri kanan. Masa tu kalau boleh semuanya nak direbut, begitulah penangan azam tahun baru. Kita bekerja keras untuk mencari rezeki dan keuntungan berlipat ganda berbanding tahun sudah.


3. Ms Swan on casual observation

Tapi kerja kita, itu-lah! Jenguk kiri kanan atas bawah, tapi tak ada hasil. Usaha kita mulai pudar. Kita makin penat dan tak berdaya. Burnout, orang kata. Hendak pula melihatkan hasil yang tidak-lah besar mana.


4. Otai Tasik Zoo

Tapi kita tengok orang sekeliling kita sudah ramai yang naik kaya. Ramai yang dah cekup rezeki masing-masing. Kita bertanya kepada diri, di mana silapnya sampai aku tak boleh jadi macam mereka? Bila dah kaya, masing-masing angkat kaki tak mau kawan dengan kita yang kini masih papa kedana. Kita pun patah harap.

5. *Jilat jilat jilat*

Kemudian kita nampak yang kawan baik kita sendiri pun, tidak-lah baik mana. Hingga tiba di satu ketika kita secara tak sengaja kantoikan dia sedang makan sorang. Dulu bila susah, jerit tempik 'Hey kita kawan-kawan susah senang sama-sama tak ada lawan-lawan'. Sekarang? Semua angkat kaki, hidup seorang-seorang.


6. Undan yang blur

Kemudian barulah kita terbukak mata luas-luas. Rupanya dunia ini masih berprasangka. Kita ini hanya sekadar mangsa. Kalau kita tak berjaya, kita ini bukan apa-apa. Kemudian kita fikir kembali di mana silapnya. Apa yang salahnya. Kita duduk dan kita pikir-pikir-pikir.


7. Tido.

Pikir punya pikir, dah pun hujung tahun. Jadi dengan pengalaman lepas, kita mula mengorak langkah semula. Tahun baru akan menjelma. Jadi apa azam tahun baru ini? Adakah kita akan mulakan perjalanan dengan mata yang tertutup? Atau kita tak bergerak ke mana-mana tapi hanya duduk dan tidur di satu spot saja?

Pandai-pandailah pilih azam tahun baru. Dan pastikan azam bukan sekadar benda untuk dilupakan bila masuk bulan 2 nanti.


*amacam cerita bergambar aku? masuk tak cerita dengan gambar? ahahahaahahhaah xD

Tuesday, December 30, 2008

So, apa cerita tahun ini?

'Over The Line' by Mohamad Nazmi Zaidi


Dalam sedikit masa lagi, kita akan tiba pada hari penamat tahun ini iaitu hari ke tiga puluh satu dalam bulan ke dua belas untuk tahun ke lapan pada millenia kedua.

Satu lagi tahun telah berjaya kita lewati. Dan dalam tempoh masa setahun ini juga macam-macam telah terjadi.

Orang datang dan pergi. Ada yang lahir ada yang mati. Dugaan datang bergalang ganti. Ada bercerai ada bertemu. Ada bercinta ada yang putus. Ada yang pass exam ada yang kena repeat. Ada yang makin kaya ada yang makin papa. Ada yang sedih ada yang gembira. Ada yang ke depan ada yang ke belakang, ada yang tak ke mana-mana. Pendek kata, tahun 2008 ini penuh erti dan warna.

Maka marilah kita kenangkan hari yang pergi dan lihat semula sejauh mana kita telah berubah. Sejauh mana kejayaan kita dan sejauh mana kegagalan kita. Sekecil mana pemberian kita dan sebesar mana kesilapan kita.

Kenang kembali kepada orang yang kita sayang. Adakah kita meluangkan masa yang cukup untuk mereka tahun ini? Adakah kita sempat katakan yang kita sayangkan mereka? Adakah kita tinggalkan mereka dalam seribu duka? Adakah kita tenangkan hati mereka dengan seikhlas hati? Atau kita makin buat mereka sakit hati?

Bagi yang bekerja, apa macam tahun ini? Adakah naik gaji, atau masih menunggu tuntutan OT? Berapa ramai yang jadi boss, berapa ramai yang kena buang? Berapa banyak benefit dapat, berapa banyak dapat wang? Gaji makin besar, belanja makin banyak, belum sebut lagi pasal hutang.

Bagi yang belajar, berapa lama lagi nak habis? Otak makin bengkak, perut makin kempis. Ada yang sedang takut tunggu keputusan. Ada yang melihatkan penamat, ada yang baru nak buat permulaan.

Bagi yang dalam perhubungan, di mana yang tersayang ketika ini? Baik lelaki baik perempuan, baik yang laki baik yang bini. Masih tebalkah cinta di dalam dada? Masih ributkah hubungan atau semakin reda?

Bagi yang kehilangan, ingatlah mereka di dalam kenangan. Mereka dah selamat pergi, kita yang hidup ini tak tau bila lagi. Doakan mereka peroleh ketenangan, pahala dikira dosa diringan.

Nikmatilah hari terakhir pada kiraan tahun 2008 masihi ini dengan sebaik mungkin. Kita di tahun 2008 ini cuma sekali, bukan?

Trainspotter: The Gathering

December the 29th, Ipoh Railway Station. 1130 hour

The majestic station stood still in the calmness of the rainy morning. Nothing changed, except for the full parking lot and hell a lot of people. Quite an impressive view for me actually, since never in my personal experience as a trainspotter for almost three and a half years now that I had seen this many people at Ipoh station. Ipoh station used to be a dead station for many years now, until KTMB launched its new Ipoh-KL shuttle service quite some time in the past weeks. Instead of being a dead station, the glory days of Ipoh station came back to cheerish its memorable existence as once the largest, the busiest and the most majestic station in the far wide of Malayan railway service, serving the North Mainline.

I was at the station for the gathering of KTM Railwayfan Club for the last time this current year 2008. There were not many of us from Ipoh actually, only the three of us representating the station.

Quiet rainy morning. Three 26-class Blue Tigers, two 29-class Dalians and one 24-class having their break.


Shunting and coupling work of Power Generation Car (PGC) by a 29-class for Ekspress Senandung Malam, bound for Singapore at 1805 hour.


Old man 24-class engine 24101 Panglima Teja. Currently residing in Ipoh due to a major breakdown.

I started my trainspotting assignment in Ipoh since mid 2005, and I joined the KTM Railwayfan club since last year. Since the date, my knowledge expanded enthusiastically to becoming from rookie to intermediate, being able to tell the story of the rail, something that people don't even bother to listen to these days .

In 2005, I was always alone at the station. It's so lonely, you know? Nobody got into the idea of liking these machines, and it went on until end of 2007, where I got to know about the club. Since then, I was never alone anymore.


Platform No. 1, 1320 hour

Crowd gathered along the platform following an announcement on arriving train from Kuala Lumpur. It's a Blue Tiger pulling 4 coaches and one PGC, slowing down as it pushed against the wind and stopped right in front of the majectic building walls.

Apparently, everyone was all curious about not only the train service but the train itself. A large number of people spooled at one spot of the platform to witness how decoupling and coupling works were done, and from their talks and observations, there were such admiration shown towards these long forgotten diesel locomotives.

Suddenly, the locomotive became 'the thing'.


The locomotive decoupled from the passenger consist.


Took a u-turn and coupled itself back to the consist, now ready bound for KL. Look at the crowd.


This train brought along the club members. So many of them that I could not tell who is who. As the local trainspotter, I and two other Ipoh trainspotters brought them around for spotting activities, and then took a picture of ourselves having locomotives and the station as the background.


Trainspotters United

A friend brought along his wife, who is also a trainspotter, who knows hell a lot more than I do. What a couple, sharing the same hobby together. Could be one in a million of them ladies in Malaysia I guess.

So we went around for food, sightseeing, and finally a meeting that discussed the club activities so far and changes to see in 2009. So far the club is growing rapidly, and since the shuttle service is already up and running, there are possibilities that the membership count will peak.



Platform No. 1, 1630 hour

We got into the platform again, this time to spot an incoming shuttle train from KL, the same train that the group will board to head back to KL at 1700 hour. These are the pictures I took:


Club President - Mr Faizal


Negotiating to take a look inside the 29-class driving cab


29-class driving cab


29-class main chassis body cover


Brake pipes, hydraulics & pneumatics valves, coupler and other
instruments of a twenty-niner



The Engineer - Ipoh train engineer who inspects all incoming trains for damages. Treats them like his own babies.


Last picture of the day

When they left, we waived goodbye to each other and took our each way home. I was heading for Tronoh while the other two Ipoh trainspotters were heading for Lahat. As I left the station, there were still a lot of people and the station was still busy, almost KL Sentral equivalent but at a smaller scale.

And for once, I felt happy. Ipoh station is alive again. For all these while, the effort to come alone to the station to spot was worth it. I was so going to miss my time I spent at the station, and I will miss the station too. It was not easy these days to come here since my commitment grew like mushrooms on other things. I walked in the rain to my car and before I sat on the driving seat, I took a look at the station once again.

It looked happy, too. As if it was trying to say something, something that I myself too wanted to let the station know.

"Thank you so much."

Monday, December 29, 2008

UTP Student Personal Money Management 101

.
So. Korang baru dapat duit scholarship. Nak buat apa dengan duit ni? Biasa-lah. Makan. Keperluan. Shopping. Ipoh. Lepas tu merempat dalam sepuluh hari sebelum scholar bulan depan masuk.

Eh. Aku tak cakap siapa-siapa. Kenapa muka masam? Hee.


* * *

Katakan korang dapat RM500.00 sebulan. Ini adalah formula yang aku buat sendiri masa aku dalam First Year Second Semester dulu. Equivalent dengan Foundation Second Semester, dan aku buat sampai sekarang.



1. Simpan awal-awal.

Dapat saja RM500 tu, terus ambil 10% dari jumlah asal dan simpan dalam akaun berasingan. RM50 je pun. Kalau takut nanti duit tu di-ter-keluarkan, masukkan dalam akaun fixed deposit. Tapi akaun berasingan ni kena awal-awal ada la. Kalau pakai satu akaun saja, percaya la cakap aku, yang korang takkan mampu menyimpan secara regular.

Kenapa kena simpan awal-awal, abang Jack? Sebab kalau simpan awal-awal, korang akan set dalam kepala otak, 'alamak bulan ni aku short RM50 dah'. So korang akan mula buat pelan induk untuk berjimat.

End of the day, kau cuma short RM50 sebab kau menyimpan, bukan sebab kau berfoya-foya Jusco.


2. Optimization

Atau berjimat. Tapi aku tau ramai orang berbulu dengan perkataan berjimat. Cuba untuk menggunakan sesuatu sehingga value dia habis, pada jumlah wang yang paling sedikit. Bukan jadi kedekut. Cuma optimize.

Macam mana optimize tu abang Jack? Katakan kau hisap rokok. Dan kau tau rokok tu menghabiskan duit. Tapi sebab kau tension/addicted/nak nampak cool pasal tu kau hisap rokok, fine. Hisap la rokok. Katakan-lah satu hari kau hisap sekotak Winston 18. Harga sekotak RM 6.80. Sebulan? Dah RM204.00.

Aku pun hisap rokok. Bila aku kira-kira, peh, banyak shiot duit aku habis. So apa aku buat? Aku cari options. Aku optimize.

Sekarang aku hisap rokok gulung. Beli je di 7-E. Ada jual. Sebungkus RM11.00. Dengan filter, roller dan paper apa semua, RM25.00. Roller harga RM10.00 tu boleh pakai sampai rosak. Aku dah pakai dekat 3 bulan, tak rosak lagi pun. Satu pek tahan sepuluh hari. So aku cuma pakai RM45.00 sebulan.

Kalau tisu, daripada beli tisu kotak aku beli kitchen paper. Lagi tebal, lagi besar. Harga di Tesco tak sampai RM10.00 sedozen. Apa kau ingat orang kisah ke kau pakai tisu Premier untuk kesat hingus kau? Kalau nak shopping, tunggu masa sale.

Kalau ada benda yang boleh recycle, recycle. Kita ada options. Cuma kena pandai cari je.


3. Keep Track

Keep track pada duit korang. Make sure korang tau ke mana duit korang pergi setiap bulan, walau sesen pun. End of the month, korang akan nampak kat mana korang paling banyak habis duit. Katakan korang banyak habis duit untuk makan. Apa lagi. Optimize la.

4. Sedekah

Kalau kau nak duit, kau kena kasi duit. Ambil 10% daripada jumlah RM500 tu, guna pada jalan yang baik. Kau tak semestinya kena bagi orang. Ala korang pergi pasar malam, nampak orang mintak sedekah, hulur la sikit. Beli makanan ikan, roti ke hape ke, bagi makan ikan kat tasik. Pergi masjid, sodok la sikit ke dalam tabung tu.

Tuhan dah cakap. Kalau kau kasi pada orang, Dia kasi lagi banyak pada kau. Tinggal kau nak percaya dan tidak je.



5. Azam dan Sabar

Ini bab cakap senang buat susah. Keazaman adalah sesuatu yang bukan senang nak dapat dan maintain.

Keazaman di sini adalah willpower untuk kau resist faktor luar yang boleh buat kau hilang duit. Ekzos baru sedangkan ekzos kau masih boleh pakai? Beg Gucci sedangkan kau dah ada 4, 5 beg di bilik? Orang selalu buat tapi selalunya bila ditanya kenapa, jawapan dia adalah kepuasan diri. Itu aku tak tau dan tak mau campur.

Keazaman juga perlu ada untuk mengelakkan simpanan di akaun berasingan tu lesap di bulan kedua.

Keazaman juga perlu ada untuk nak mulakan. Macam nak pergi jogging la. Susah bukan main. Liat bukan main nak pergi jogging. Malas la, penat la, patah belakang la apa la. Tapi bila dah pergi, takdela susah mana pun jogging ni rupanya. Itu semua kena ada keazaman untuk lawan balik.

Sabar, itu kena ada. Kau kena sabar tengok orang lain makan sedap-sedap, hidup macam Donald Trump. Sabar-lah sedikit. It doesn't make a difference pun, you guys tetap dapat RM500 sebulan.

* * *

Katakan dah akhir tahun. Dalam simpanan kedua dah ada RM 600 kalau korang simpan RM50 sebulan. Ambil RM 300, buka Akaun ASB bagi yang Bumiputera. Duit tu akan generate sendiri tanpa korang perlu ambil tau pun. So now, the money works for you. Pandai-pandai la isi sendiri akaun ASB tu. Takkan nak biar ada RM300 je dalam tu.

Ada duit lebih, beli trust fund atau kalau nak berani lagi, beli share. Sekarang market tengah merudum. Kena ingat, trend market akan jatuh dulu sebelum dia naik balik. Sekarang banyak saham mewah berada pada paras terendah. Beli pada paras rendah, lagi banyak unit dapat. Nanti slow-slow market akan naik. Tapi jangan la bodoh-bodoh je beli.

Dan time tu baru korang senyum macam M.

p/s: hujung tahun ni duit simpanan aku cecah 5 angka. hihihihihihihhiii

Kaya Cepat?



Semalam kawan aku SMS, "weh aku ada projek baek punya untuk kau. Invest RM1000, boleh dapat RM100,000 sebulan. Kena cari orang je."

Oh. MLM lagi la tu.

Kawan aku ni, tak pernah serik dengan MLM ni. Dia dah melabur entah berapa ribu, beli produk lagi, nak kena cari orang bawah lagi. Kayanya tak jugak.

Aku reply pada dia, "lupakan. Aku taknak join."


* * *

Orang kadang-kadang datang pada aku, tanya pasal buat duit. Aku bukan ada duit sangat pun, tapi dia orang nampak aku macam banyak duit. Itu yang aku hairan. Mungkin kepala aku kurang kedut-kedut kot berbanding dia orang. Eceh.

Ok-lah. Dulu ada la aku beli sekor kambing ni. Jantan. Masa tu aku beli RM450 sekor. Nama dia tak boleh didedahkan di sini sebab sensitif. Nanti ada 'orang tu' marah. Kita panggil dia M saja-lah! So aku bawak la ke hulu ke hilir kambing ni, until setengah tahun lepas tu masa aku realize yang M ni sebenarnya lonely. Pernah sekali tu dia melakukan kegiatan luar sopan dengan tiang pagar rumah. Kesian. Takpe, aku memahami.

So belilah seekor lagi kambing, Kali ni betina. Tak beli yang jantan sebab, yelah, paham-paham sendiri la kan. Karang kalau bagi yang jantan, buatnya M mengamuk? Tak pasal-pasal.


"Yay da ade bini."

Sekarang M dah mula buat family dengan rapid. Iya-lah! Baru kahwin. Aku tak larat jaga, takkan nak bawak ke UTP. Apa kata rektor nanti? So aku tinggalkan di kampung mintak orang jagakan. Last aku dengar, anak beranak dia dah masuk 14 ekor. Dalam masa 4, 5 tahun je. Kalau katakan seekor harga RM600 sekarang, aku dah untung RM8,400. Tapi aku tak jual pun. Aku kasi semua dekat orang yang jaga tu sebab dia sayang M dan family macam anak sendiri. Janda anak satu lagipun.

Aku tak rasa rugi pun. Aku bela pun mula-mula sebab suka-suka. Orang bela kucing, bela biawak hijau, aku bela kambing. Ok what? Aku kan lain daripada orang.

Moral di sini ialah, kalau tak berani nak invest tapi nak jugak invest, kena invest pada benda yang kau tau nilainya akan naik pada masa hadapan. Jangan invest pada benda yang kabur-kabur, kecuali kalau ada kepakaran untuk predict market.

Invest pada benda yang kau tau memang at the end of the day orang akan carik. Barang makan misalnya. Jangan invest pada benda yang bukan-bukan. Ini kau invest dekat spirulina. Kau ingat orang Malaysia ni hari-hari nak makan bakteria ke?

"Kita kena fikir positif, Jack."

Ye-lah tu. Orang cakap, menjawab. Habis kalau tak habis spirulina tu, sapa nak makan? Kau nak makan? Ha ha ha. Maaf ye kalau ada yang terasa.

"Tapi aku student je pun. Nak duit lebih. Mana ada masa nak tunggu 4, 5 tahun. Ajar la aku macam mana nak carik duit cepat."

Untuk soalan macam ni, kena tanya Ah Beng. Camne Beng?

"Haiya. Lu mau jadi itu driver F-1 ah, takkan lu sinang-sinang pigi tanya dia punya driver macam mana mau bawak itu keleta. Itu driver kalau dia ajar sama lu pun, lu kasi bawak F-1 car pun start-start sudah crash wor. Kena belajar perlahan-lahan la! Take your time."

Eceh.

Takpe. Nanti aku ajar macam mana nak simpan duit walau sebagai student di post yang akan datang.

Sunday, December 28, 2008

The Hilarious Mutton Curry Gang & What Are You Doing?

I was bored. It rained a bit in the morning, so I chose to read the books I borrowed from the library the other day just to make sure that I am in control and as to occupy myself with something to keep the time running.

I placed my phone at one of the window edge. Better reception.

As I was enjoying my hand-rolled Blackcurrant-scented tobacco cigarette and enjoying my morning coffee, a friend of mine appeared the front door. He said hello and good morning.

"Morning to you too, kind sir," in such manner, I replied. It was already 11.30am.

This guy friend, Timmy G., is a Malaysian Indian who lived his childhood with his colonial-like grandparents so I have to be in a way or another proper to him, even though sometimes he becomes one crappy guy himself. He is one of the member of the Mutton Curry Gang in which we formed some time long ago, back in the days.

"Coffee?" I asked him.

"No thanks. I've just had mine."

I took a sip of the still steaming hot coffee and felt the liquid burning my internal mouth cavity. Ahh, I let out a sigh. Tim took a chair, sat on it and put both of his legs on the pantry kitchen, as if he was mimicking me or something. For some time he browsed through the books on the table, before he turned his attention to me again.

"So what you did the whole day, Jackie boy?" Man, I have always hated that nickname.

"Uh," I replied slowly while trying to keep my eyes on the paragraph of the book I was reading before I continued, "nothing."

"Nothing?"

"Yeah nothing. Why?" I put a marker on the page, closed the book and rested it on the table. I looked at him, now putting a confused expression up his face.

"Macha," he called to me in a more spicy Indian way of addressing people, "how long la macha, you have been in this state?"

"Uh, few hours."

"Doing nothing?"

"Ya la. Nothing. Why la?"

He looked really surprised.

"How la macha? How la you do nothing? You've been reading what? You drank coffee what just now. How la you said you did nothing? For hours some more?"

Hurm. It made sense, somehow, did it not? We used to have people who asked what were we doing before we spoke to them, and usually we replied, 'nothing', or 'tak buat apa'. But actually, what is it? What this 'nothing' actually means, and how to do it?

"Macha, funny shit is going on cha. I wonder la cha how la you do nothing? Funny shit, cha!" Right after he finished that sentence, he burst into such laughter that could cause one to shit in their pants, and continue laughing still.

It lasted for a minute or two. And I felt retarded.

"Macha, you're a genius la Jack! You're rocket science, cha! Fella should cage you and put you in some sort of kickass science center so people can come and look at you doing nothing!"

I could not hold it anymore so we both laughed like drunk monkeys playing on a wheelchair before throwing themselves off the roof. We laughed so hard that there better be paramedics standing by outside. Tears was running out from our eyes, and I could feel my cheek was cramping and my jaw was dropping.

Soon I let out a very loud sigh, followed by my usual 'aiyoo'. I asked Tim, 'how la cha?"

Tim, still chuckling, replied, "very hard la Jackie boy. Funny shit is going on, cha."

It was nearly lunch time. I told Tim that we better bring another Mutton Curry Gang member, Jasvinder along for lunch. Since he lived at another village, Tim told me to give the guy a call first. So I took my phone and gave it a try. The annoying tone rang out from my mobile phone speaker. And then there was an answer.

"Bhai (we addressed the Punjabi-blooded Jasvinder as 'bhai' - it pronounces 'bhaiyi'),' I said aloud into the loudspeaker, "wanna go makan or not?"

"Can also," he replied.

I nodded in acknowledgement. Tim was looking at me, smiling. And then I got the idea.

"So bhai," in which he replied 'yea?', "what have you been doing la?"

"Uh, nothing?"

Both of us started jumping up and down the pantry bursting into a series of comical, hilarious laughter. The room was shaking. Tim was knocking his palm continuously into his forehead and kicking at his feet while laughing the crap out, as I was holding my cramping belly that hurt so badly already. He looked as if he was going to die any soon. Panting, he then screamed at me;

"You're a JACKASS la Jack!!!"


LOL

Saturday, December 27, 2008

Asset vs Liability: What la wei?

We always hear some people bragging around to their friends and families about what they have, and of course these faggots piss them off, especially when that particular word comes out.

"Ouh, I have assets, see."

Many people think that they have assets when they do have not. And this particular mindset makes one thinks that they are richer than another when they are not. Instead, they only have liabilities.

Let's see what those assets and liability are.

According to Robert T. Kiyosaki, an asset is something that generates money for you, and a liability is something that takes away money from you. It is that simple, actually, but when it comes to the deeper understanding it needs a bit more thinking and justifications to differentiate one to another.

We always hear that, "my assets are my car and my house." Well, is it true that they are assets?

When you own any or both a car and a house, do they generate money for you? They do not. Instead you are the one who needs to pay for the monthly payment, the bills, the petrol, maintenance and et cetera. So these both car and house take money away from you, right? So those are what we call liability.

Pure assets are things that generate money for you without you even need to do anything. It generates money even when you sleep. It generates money even when you are spending your money.

"So tell la. What are the examples? You talk cock la you. Talk talk talk for hours, like that I also can maaa..! Haiya!"

Fine. Let's see. Any of you have ASB account? See, that's an asset. You invest some money, and let it grows for a bit. It's like planting a seed, you see. You plant a seed, then you water it everyday, maybe you can put some fertilizer so it grows better. Until one day, you don't need to take care of it anymore, because it can take care of itself. And what you have then is one big tree with huge branches that provide such canopy for you and your family.

Or, you can rent out a house. Let say, you buy a house that cost you to pay MYR 500.00 per month as monthly payment to the bank that lend you money to buy the house. Then you rent out this house to somebody who is willing to pay MYR 600.00 per month to you, and he will take care of the house, including the bills, the lawn, maintenance whatsoever. End of the day, you make MYR 100.00 per month, and the house will be yours in 30 years time.

Or, you rent out a car. You buy and extra one second-hand car that needs you to pay MYR 400.00 to the bank for monthly payment. You rent it out to people for, let say MYR 10.00 per hour. Averagely per month you manage to rent the car out for 80 hours, which means you make MYR 800.00.

"Wahsai, free free got four hundred bucks ah? Then also in the end can own the car?"

Yea, but you have to remember about the maintenance and other stuffs too like initial down-payment and etcetera. But still, it is a good investment.

So start saving now, people. Who knows, in a few years time things could change somehow, relatively about your financial status. You have your monthly wage, and also you have side incomes that generate money for you easily. This is one way to change a liability into an asset. And of course, an asset can be changed into liability as well.

But this one is just a rough idea. There are a lot more thinking and justifications to do before you commit into it. Don't just buta-buta only.

"Ah I don't care la assets, liability all. I have my wife what? Best asset ever, man!"

Aiyark. That one is very hard la dey!

Friends in Definition. My definition.

Everyone has friends, or at least they claim to. Myself included, but I don't have any more than ten real good ones. However, these people deserve a little respect and appreciation from me for showing their best to fit into my life. This post is an ode to a number of my best friends.

What do i define by friends are these:

1. We go bang balls together. We go Ipoh together. Whistle at the babes, smoke like a Volvo, share a single cup of coffee at either Starbucks or The Coffee Bean for hours, go to classes together. Escape class together. Do shits together. Get shits together.

2. We cry together too. Best friends usually wont ask you to calm down when you're sad or whatever. Instead they will just sit down next to you listening (or at least pretending to) to all blabbers you need to let go, and in the end will say, "lets get pissed and watch porn," or "wanna go somewhere and whack somebody?" or "let's fag until we fart smokes and piss tar." Things like that. They wont settle your problems of course, but they will always make you smile after a hard day.

3. We stick no matter what. Yeah we fight too sometimes. We will throw things, swear at each other, scream the shit out of each throat and curses like nobody's business. And then we split. After a few hours we will meet again and one of us will say, "f*ck you," while the other one replies, "yeah f*ck you too." and then we laugh and we're back on track again.

4. They stay. No matter how shitty you are, they'll stay with you. They respect you as you respect them. Those who choose friends will only accept the good things in their friends and leave when things get rough. But true friends will accept whatever that you have good or bad.

5. They protect. When you need one, of course.

Well. It has been six years being here and there are a lot of people whom I have met. People who call themselves friends but talked bad behind me. People who call themselves friends for the sake of my damn car. People who call themselves friends but in the end they leave for selfish reasons. People who call themselves friends but were the enemy themselves.

Only a few stayed, and still. And this particular few, are rated as the people who have reached the highest achievable position in my life, no longer known as friends, but brothers.

Thank you so much, and God bless you all. Amen

Friday, December 26, 2008

Setan-kah Aku, Abu?

Masa aku budak-budak dulu, aku memang melalui pengalaman yang agak pelik. No, aku bukan kena molest dengan guru besar, dan aku tak pernah kena molest dengan guru besar malah mana-mana manusia pun.

Dulu aku darjah satu sampai darjah empat di Sekolah Rendah Kebangsaan Jalan Gurney 1, sekarang sebelah menara Celcom, Kuala Lumpur.

Mak bapak kerja gomen. Kena masuk kerja sebelum pukul lapan. Tapi masa itu mana ada LRT, MRR2 dan apa segala benda kaedah pengangkutan yang memendekkan masa perjalanan. Traffic jam adalah satu perkara yang bapak aku paling benci sampai ke hari ini. Apa boleh buat, bapak? Kita hidup di metropolitan.

Jadi untuk mengelakkan traffic jam ini, terpaksalah kami keluar rumah pagi-pagi. Pagi di sini bukannya pukul 7.40am ya. Pagi di sini adalah seawal 6.00 pagi. Maka bayangkanlah pukul berapa aku bangun, aku mandi, pakai baju seluar bedak apa semua, kemas buku, angkat beg dan masuk ke dalam kereta. Dan aku selalunya akan mengalami selsema sepanjang zaman la time sekolah pagi dulu.

Sampai sekolah pukul 6.30 pagi. Pakgad pun tengah lena dalam pelukan bini lagi. Pintu gate berkunci. Sial! Maka membatu la aku sebelah gate sekolah tunggu pakgad datang bukak pintu, dengan bertemankan beg besar dan buku yang berikat-ikat. Kalau ada kucing, aku akan main dengan kucing dulu. Tak pun tangkap belalang di tepi longkang.

Sekolah aku kebanyakannya ramai anak orang kaya-kaya. Aku tak campur sangat dengan diorang sebab diorang berlagak. Selalu bawak benda-benda 'ori' ke sekolah dan mengejek barang-barang yang aku pakai sebagai 'local' atau 'siam'. Masa kecil dulu aku gemuk. Selalu kena ejek gemuk, gemuk. Tapi aku ingat, aku tak lupa. Time main bola cop, jaga. Sekor-sekor aku baling ke muka sampai bergaduh. Balik sekolah, baju macam orang balik perang.

Aku balik rumah atuk di Kg. Datuk Keramat naik bas sekolah. Arwah atuk aku yang akan tunggu di tepi jalan. Nenek aku tak pernah bising baju kotor. Arwah atuk selalu bawak aku tengok burung-burung merpati yang dia bela di sebelah rumah sambil makan pisang abu rebus rendam dalam air gula yang sejuk. Kadang-kadang dia bawa aku ke sungai melastik gagak. Arwah atuk memang manjakan aku sangat-sangat. Bapak aku mana berani marah aku depan arwah.

"Jangan marah cucu aku. Dia kecik lagi, tak paham apa-apa," kata arwah, sambil aku menyorok belakang peha dia menangis-nangis.

Masa darjah satu semester pertama, aku dapat nombor satu. Arwah atuk belanja aku aiskrim. Aku ingat lagi.

Tapi tak lama lepas tu, arwah meninggal masa aku baru habis darjah satu. Aku dapat 3 anugerah di sekolah - Terbaik Bahasa Melayu, Terbaik Bahasa Inggeris dan Terbaik Matematik. Aku bajet balik nak tunjuk kat arwah, tapi dia dah pergi dulu. Habis siapa nak bawak aku pergi sungai lepas ni? Nenek mana reti lastik burung. Siapa nak bawak aku pergi pasar pagi dekat flat (kini Stesen LRT Jelatek) naik vespa yang meletup-letup tu? Siapa nak tunggu aku balik sekolah?

Sejak hari tu aku tak pernah nampak lagi pisang abu rebus rendam air gula dalam peti ais rumah tu. Aku tak pernah lagi dapat nombor satu di sekolah.

Kemudian time aku darjah empat aku pindah sekolah ke Sekolah Kebangsaan Teruntum, Kuantan sebab bapak aku kena transfer, meninggalkan nenek dan kenangan lama aku di Kuala Lumpur. Aku masuk kelas Amanah, kelas keempat dari hierarki kelas mengikut kepandaian budak-budak di situ. Budak-budak kat situ tak suka aku sangat sebab dia orang kata budak KL ni anak orang kaya, berlagak.

Aku pernah kena surrounded dengan budak-budak situ dekat belakang sekolah. Ada tali barut ni kata cikgu suruh teman ambil barang dekat stor. Rupanya diorang dah tunggu ramai-ramai. Aku seorang, budak ramai. Maka lauk la aku hari tu. Tak apa. Aku ingat.

Tapi aku dapat 3 kali nombor satu dalam kelas tu. Jadi ketua darjah lagi.

Darjah lima aku dinaikkan ke kelas Pintar, iaitu kelas elite nombor satu di sekolah tu. Ada anak menteri, ada anak engineer besar, ada anak hakim negeri, anak towkay balak dan macam-macam jenis anak orang lagi. Sampai darjah enam aku kekal dalam kelas tu. Seperti biasa aku dikelilingi oleh anak-anak orang kaya yang kalau hujung tahun lepas periksa akan bawak segala jenis makanan dan jajan mahal-mahal untuk dikongsi dengan budak-budak lain.

Masa tu siapa bawak makanan mahal dah boleh jadi ahli parlimen. Aku? Aku bawak benda biasa-biasa je. Jangankan ketua bahagian atau ketua cawangan, jadi ahli pun belum tentu lagi di mata kawan-kawan aku, anak orang kaya-kaya.

Lepas tu UPSR. Aku lulus cemerlang dan diterima masuk ke Sekolah Menengah Sultan Abu Bakar, pun di Kuantan. Orang selalu panggil sekolah ni sekolah SABS (Sultan Abu Bakar School) yang juga digelar Sekolah Anak Beranak Setan.

Sekolah ni sekolah elite. Sekali lagi aku dikelilingi oleh segala macam anak orang kaya sebab aku masuk kelas pertama. Apa budak-budak pandai ni mesti juga anak orang kaya-kaya ke? Tak juga. Aku anak orang biasa.

Aku juga masih gemuk. Masih gedempol. Semua orang ejek.

Dulu aku cuma bercampur dengan anak nelayan, anak orang keje gomen, anak orang biasa-biasa sebab kitorang satu kepala. Kitorang tak bergaul dengan anak-anak orang yang kalau balik sekolah mesti lepak di McDonald Parkson Grand. Kitorang tak pernah kenal la apa benda 'designer label' semua ni. Seperti biasa aku akan diejek pakai barang local oleh dia, dia dan dia yang pergi balik sekolah naik Mercedes atau BMW. Aku pergi balik sekolah naik bas buruk tak ada aircond. Pergi Kuantan Parade pun jalan kaki dari sekolah ramai-ramai sebab tak ada duit. Distance? Ada la dalam 10 kilometer.

Maka sepanjang 3 tahun sampai tingkatan 3 aku kena ejek. Seorang perempuan pun taknak dekat aku yang gemuk, pakai barang local, dan pergi mana-mana naik bas ParkMay atau jalan kaki. Tak apa. Aku simpan dendam. Aku jadi rebel. Jadi melawan. Jadi budak nakal. Sampai aku pernah kena lempang dan kena rotan dengan cikgu sebab aku terajang budak yang selalu ejek aku.

"Kamu perangai macam setan, tau? Tak ada otak punya budak." Tau cikgu. Tapi dia ejek saya gemuk, ejek mak bapak saya miskin, cikgu. Tapi cikgu tak mau dengar semua tu. Anak orang kaya yang mengejek aku terlepas senang, malah dapat layanan kelas pertama dari cikgu. Aku yang kena 'tak ada otak' ended up menangis seorang diri belakang makmal lama dengan bekas birat rotan di paha.

Cikgu English aku kata aku sampai bila-bila tak boleh cakap bahasa Inggeris sebab aku selalu tak lepas ujian lisan.

Kemudian aku dapat 8A PMR. Semua yang mengejek dulu senyap tak berbunyi. Aku tersenyum puas sambil mengangkat jari tengah pada mereka.

Lepas tu bapak aku dapat transfer balik ke KL. Maka tinggallah semua kenangan pahit manis di Kuantan. Sehingga ke hari ini, aku tak pernah jejak langsung bandar itu lagi.

Aku dapat masuk MRSM Jasin tak lama kemudian untuk melanjutkan pelajaran ke form 4. Aku dapat aliran sains tulen, kelas 405. Masa masuk-masuk memang aku janggal habis. Masa tu baru kenal sistem CGPA. Tertekan gila masa tu.

"Mesti dapat 3.50 ke atas untuk dapat Anugerah Pengetua," kata Ms Molly, cikgu homeroom aku. Dulu kami satu kelas 24 orang. Ada 2 homeroom, konon macam keluarga angkat la. Ada la seorang cikgu jadi mak/bapak angkat untuk kami 12 orang satu homeroom.

Disebabkan tekanan bagai hapa, aku naik songsang. Aku jadi workaholic. Aku burnout. Aku tak kenal orang. Aku murung sepanjang masa. Dalam masa tiga bulan, berat badan aku turun 30 kilo lebih. Dalam kepala cuma CGPA saja. Orang kata aku sombong.

Semester pertama aku dapat 3.59. Pengetua belanja makan KFC tepi pool.

Time form 5, aku apply nak jadi LDP. Lembaga Disiplin Sekolah merangkap pengawas. Aku mula dipandang sebagai anjing sekolah, sedangkan aku cuma nakkan title pengawas itu untuk resume aku ke universiti nanti.

Pernah aku tengah tidur, ada budak datang tumbuk aku kat perut. Budak yang konon kental kat situ. Aku kenal siapa. Jangan ingat aku tak kenal.

Bila aku keluar, ada ramai kat luar. Konon mafia la. Tapi mafia buat assignment sorang-sorang, takpun berdua. Habis ini apa?

Diorang claim aku repot kat ustaz yang diorang fly sekolah. Padahal aku tak buat pun. Dan yang paling palat-nya, aku tau member LDP aku yang buat sebab aku nampak dia repot. Yang lagilah palat-nya, dia ada sekali dengan diorang malam tu. Tak apa, aku simpan dendam.

Sejak hari tu, aku dah tak bergaul dengan siapa-siapa kecuali budak kelas aku dan beberapa lagi budak sekepala dari kelas lain. Meja aku kena conteng, almari aku kena bongkar, duit aku 3 ratus kena curik. Dan ada budak kelas aku sendiri buat cerita dongeng pasal aku. Tak apa. Aku simpan dendam.

Result SPM keluar. Aku dapat 8A. Aku terus angkat kaki, cabut dari Jasin, tak pandang-pandang belakang lagi.

Aku dapat banyak offer. Kebanyakannya medic sebab aku tak pernah fail biologi, selalunya main di A dan B sebab aku minat. Tiga offer medic; satu di Ireland, satu di Russia dan satu di Australia. Ada dua offer bioteknologi. Dan satu offer engineering.

Aku sangat-sangat-sangat nak ke Australia sebab aku tertarik nak ke sana, even until today. Tapi aku tak ada duit sangat. Walau ada scholarship pun, hidup bukan senang di tempat orang. Maka yang pergi ke sana dan mana-mana tempat lain di luar negara hanyalah kawan-kawan aku yang berada. Tapi aku tak putus harap. Aku simpan duit perlahan-lahan sebab nak pergi juga Australia.

So tak ada-lah aku ke Australia. Sekarang aku meluat dengan Australia, dan jangan tanya kenapa.

Instead aku pergi ke UTP untuk 5 tahun pengajian.

Hari ini aku jadi orang. Aku mampu berfikir baik dan buruk menggunakan otak aku yang dulu cikgu kata tak ada. Aku menghargai jejak langkah aku dan aku hargai hasil titik peluh aku, tak macam anak-anak orang kaya sekeliling aku yang hidup rosak dan sekadar menghabiskan duit mak bapak. Aku lebih sensitif dengan budak-budak yang hidupnya kasihan. Aku lebih menghargai hidup dan masa aku yang dikurniakan Tuhan. Aku belajar untuk maju ke depan.

Atuk, aku sekarang dah ada degree. Aku sekarang belajar lagi untuk dapatkan master, atuk. Master tu lagi tinggi daripada degree. Nanti atuk kena belanja aku aiskrim yang lagi besar ya tuk. Kita pergi lastik burung sama-sama. Kita tengok burung merpati sambil makan pisang abu rebus rendam air gula sejuk sama-sama. Kita pergi duduk tepi jalan tengok kereta besar-besar milik orang kaya. Kita naik vespa jalan-jalan pergi pasar ya atuk. Atuk sekarang dah tak payah naik vespa. Atuk naik kereta aku ya tuk. Kita jalan-jalan. Aku tau atuk penat, kaki atuk sakit. Dan pasal kaki atuk yang sakit itulah atuk tinggalkan aku kan tuk?

Cikgu, sekarang aku jadi engineer. Aku habiskan masa buat research untuk dunia yang lebih baik. Aku sekarang dah ada otak. Aku sekarang boleh cakap bahasa Inggeris dengan petah, and I can converse in English better than you always did back then, that I guarantee you.

Aku boleh beli barang-barang ori yang aku jaga rapi macam jaga bini, dan aku tak pernah pandang rendah barang-barang local. Aku boleh hidup berdikari, tak macam engkau, engkau dan engkau yang selalu komplen tak ada duit sedangkan mak bapak kau pam duit setiap bulan ke dalam akaun kau yang selalu kontang. Aku boleh melihat kedamaian dari belakang rumah tanpa perlu merantau jauh untuk berlagak dengan orang. Dan paling penting aku dah kurus, malah badan aku tegap dan kuat untuk terus bekerja setiap hari. Tak macam dulu yang gemuk dan lembik, yang sering kau ejek-ejek dulu.



Setan lagi-kah aku hari ini cikgu?

Beranikah engkau debik aku hari ini, Abu?



Kenangan di MRSM Jasin. Teka mana aku?

Cerita, Cinta & Indahnya Red September

Satu cara untuk membuang masa adalah dengan memperuntukkan masa tersebut kepada benda lain, selain menyelamatkan aku yang kini sudah mencapai situasi emosi yang menghampiri paras kritikal.

Red September tag aku.

1. Senaraikan 10 perkara tentang org yg tag kamu
- adalah seorang perempuan berdasarkan pemeriksaan mata kasar.
- merupakan bakal seorang doktor perubatan paling menakutkan pernah aku jumpa.
- dalam perjalanan untuk menjadi graduan perubatan dari sebuah universiti di Moscow.
- ada kelebihan berbahasa (dan memaki) dalam bahasa Russia.
- merupakan seorang single setelah kejadian lampau yang memecahkan hatinya kepada seratus juta ketulan kecil yang kini sudah mengambil masa 4 tahun untuk proses pembaikan.
- berusaha kuat menasihati aku dalam hal bercinta supaya aku tak end up macam dia kalau aku silap langkah
- dia pakai blog name Red September. Mungkin ada signifikasi dengan tragedi Red October, tapi rahsia di sebaliknya cuma dia saja yang tau.
- ada suatu kesedihan, ketakutan dan kesepian di dalam setiap bait kata dan dari sebalik sinaran matanya, suatu perasaan sayu yang menggamit aku untuk menghilangkan kesayuan itu bila tiba masanya nanti.
- kawan yang baik dan antara nama-nama yang aku hargai setiap hari.
- dia sure akan komen post ni.

2. Tuliskan novel kegemaran kamu
- 'Jauh', Aisya Sofea,
- 'Satu Janji', Ramlee Awang Murshid
- 'Casino Royale', Ian Fleming
- 'Angels & Demons', Dan Brown
- 'Min', Mohamad Nazmi Zaidi B Moni

3. Listkan 5 bende yang kamu sayang (bukan org)
- buku-buku aku
- jaket reversible aku
- perfume Chrome Azzaro aku
- kamera FZ18 aku
- travelling guitar aku

4. Who I want to tag
- A'an Paulina, Mira, honey hanis, Hani & Tun Mahathir Mohamad. Yang last tu tak pernah buat satu pun tag aku bagi.

Wednesday, December 24, 2008

UTP & Summer Holiday

UTP tengah cuti. Everyone knows that.

Tapi aku tak cuti. Aku lepak UTP. Budak Postgraduate tak ada cuti panjang macam budak Undergraduate. Since aku ada banyak hal dalam kepala, aku mengambil inisiatif untuk menjalankan sesi self-therapy dengan mengambil gambar sekeliling untuk dikongsi dengan kamu, kamu dan kamu.

Gambar-gambar di bawah diambil pada waktu pagi dan sebentar tadi. Lihat-lihatlah. Jangan lupa komen.


Ini gambar yang diambil di walkway depan blok residen aku. Daun-daun berguguran tak disapu membuatkan gambar ini lebih 'feel'.


Ini gambar sebatang pokok di sebelah blok aku. Matahari pagi baru nak kuat. Udara tengah sejuk lagi masa ni. Lembah Kinta ni pagi memang sejuk.


Ini walkway yang menghala ke blok residen aku. Nampak empty tapi tenang. Landskap pun boleh tahan. Macam kat hotel pun ada.


Gambar ni mahal. Memang mahal. Jarang nampak shadow macam ni pagi-pagi. So aku snap saja-lah! Terasa macam kat luar negara pun ada.


Ini gambar fresh baru amik tadi. Nice kan lighting dia? Oh itu kereta buruk aku di bawah lampu tu.


* * *


Aku dalam dunia sendiri, bersendiri.


Kadang aku rasa ngilu dengan perasaan sendiri. Kadang aku rasa takut dengan masa depan. Kadang aku rasa sedih dengan harapan. Kadang aku tumpas di tangan perasaan yang menekan. Kadang aku rasa kepala macam terbelah. Kadang aku merasa serba salah.

Salahkah aku bermasalah?

Can You Move Me?



The Script

'The Man Who Can't Be Moved'

Going back to the corner where I first saw you,
Gonna camp in my sleeping bag I'm not gonna move,
Got some words on cardboard got your picture in my hand,
Saying if you see this girl can you tell her where I am,

Some try to hand me money they don't understand,
I'm not...broke I'm just a broken hearted man,
I know it makes no sense, but what else can I do?
How can I move on when I'm still in love with you?

Cos if one day you wake up and find that you're missing me,
And your heart starts to wonder where on this earth I can be,
Thinking maybe you'll come back here to the place that we'd meet,
And you'd see me waiting for you on the corner of the street.

So I'm not moving...
I'm not moving.

Policeman says son you can't stay here,
I said there's someone I'm waiting for if it's a day, a month, a year,
Gotta stand my ground even if it rains or snows,
If she changes her mind this is the first place she will go.

Cos if one day you wake up and find that you're missing me,
And your heart starts to wonder where on this earth I can be,
Thinking maybe you'll come back here to the place that we'd meet,
And you'd see me waiting for you on the corner of the street.

So I'm not moving
I'm not moving

People talk about the guy
Who's waiting on a girl
There are no holes in his shoes
But a big hole in his world

And maybe I'll get famous as the man who can't be moved,
And maybe you won't mean to but you'll see me on the news,
And you'll come running to the corner
Cos you'll know it's just for you

I'm the man who can't be moved
I'm the man who can't be moved

Going back to the corner where I first saw you,
Gonna camp in my sleeping bag not I'm not gonna move.


* * *

I need my ring of thoughtful people to speak up about this. Anybody wanna join?


Boleh Tak Kalau Kau Happy?

A few readers from this blog recently commented about me being selfishly sad over the past few days. 'Too much negativeness,' so they said.

Well, I do not know how actually, but this thing (whatever sadness you guys are talking about) gets to me pretty much easily these days. Usually I just stiff up my upper lips and carry on like usual but not anymore. Probably because I am now actively blogging again and I got myself too carried away with the idea that a blog is where the heart is. It is where every and each little secret you have be put into writings, orchestrated by your own style and wanting.

So I blasted off my musings, my rantings and whatnot into my writings. Little that I forget, that every entry here is exposed to many different people with different identities and personalities who come and read them every and each day, giving out varieties of comments and not to mention those who usually will work out their mind to justify my ideas. Justifying my ideas is fine, but justifying me is not very. Because we both know that this one thing - personal justifications - will one day lead to nasty arguments that many of us are trying to avoid most of the time.

Now, about me being unhappy.

Let's just say that I am undergoing some major changes in my life. These things came one after another; career, study and relationship, and I swear they are driving me nuts. So I need to find a place where I can release my everything, and I chose to blog. This blog, is everything about me.

But I forgot how people see it.

As for now, I start running again. It has been two weeks now since I decided to run, and I spent two to three hours a day running, and then projected myself for some weight-lifting at the gym. Some of my muscles are now aching. I could feel the tendons in my legs pulling. My arms are barely as mobile. My back ache like hell I cannot lean on them. My abs are cramping violently that I can hardly bend forward. My body is painful all over.

But I feel better.

"Cutting releases endorphins, endorphins relieves pain." - Gregory House, M.D.

Tuesday, December 23, 2008

Ini Ke Bapak Kau?

Post ke-seratus.

Semua orang ada bapak, kecuali seorang saja. No, bukan kau. Itu Nabi Isa a.s. Kau tak belajar Bahasa Melayu-kah di sekolah dulu?

Bapak saya nama Moni bin Makmun. Orang Boyan. Bawean sebenarnya, tapi senang sebut Boyan. Nama memang pelik sedikit, dan aku sampai hari ni nak cari sapa punya idea yang buat 'Es Moni', aiskrim dalam pek kertas tiga segi silinder yang menjadikan aku sebagai bahan gelak di sekolah rendah dulu. Palat betul. Tapi biasa-lah, budak-budak ejek nama bapak.

Bapak saya lahir tahun 1949 di Kuala Lumpur. Tak, dia tak lahir di Pulau Boyan. Arwah atuk saya keluar dari Pulau Boyan pada umur 18 tahun ke Malaya. Datang naik kapal ke Singapore.Untuk cari duit katanya.

Aku nak keluar Malaysia umur 18 tahun? Gila kau. Mati tak makan sia-sia je.

"Ada apa masalah? Sila bincang dengan saya."

Gambar di atas adalah gambar bapak saya ketika muda-muda dulu. Muka macam samseng kan? Itu pasal saya takut sama bapak saya dari dulu sampai sekarang. Bapak saya dulu sekolah di Sekolah Datuk Abdul Razak (SDAR) Tanjung Malim. Tempat itu kononnya ada banyak kenangan dalam kepala dia, itu pasal selalu kalau dia bukak mulut dia akan kata:

"Baba dulu masa kat SDAR, blah blah blah..."

Lepas habis MCE, bapak saya terus mintak kerja dengan gomen. Masa tu siapa kerja gomen ni dah kira tabik tapak kaki naik ke dahi la. Bapak saya dapat kerja di Jabatan Imigresen Malaysia. Tapi bapak saya tak ada-lah masuk-masuk kerja terus jadi otai. Bapak saya start dari bawah juga. Jadi budak pegawai kecik dengan gaji RM90.00 sebulan.

Lepas tu bapak saya mula bina empayar sendiri. Kumpul duit sedikit demi sedikit. Bekerja sambil buat kawan dengan otai-otai yang sudah sedia ada di jabatan.

Lepas tu bapak saya dapat kerja di Pelabuhan Klang. Mak saya juga bekerja di Imigresen. Entah macam mana, sangkut. Kahwin terus.

"Aku sekarang dah kah-wen. Korang bila lagi?"

Bapak saya juga pernah mengalami kes-kes yang boleh menyebabkan orang biasa mampu terkencing dalam seluar. Contoh-nya, bapak saya pernah balik dari Klang naik bas ke Bus Stand Klang di Pasar Seni ketika perintah berkurung tragedi 13 Mei sedang berlaku. Masa itu, siapa keluar rumah pada pukul 6 petang hingga 6 pagi kalau tak silap, memang maksud-nya akan balik ke rumah semula dengan lubang-lubang peluru M16 di serata badan.

Dan bapak saya stranded di Bus Stand Klang sebab hujan lebat seorang diri di mana tak ada manusia, kereta, bas, lori, becha, helikopter mahupun LRT untuk ditumpang balik ke Kampung Datuk Keramat. Dan jam sudah pukul 6 petang lebih. Last-last bapak saya balik jalan kaki merungut-rungut potong ikut Kampung Bahru ke Kampung Datuk Keramat.

Atuk (arwah) dan nenek (hidup lagi) keduanya stunned dengan tingkah-laku bapak saya yang ketika itu sampai di rumah dengan basah kuyup merungut-rungut.

"Tak ada bas. Jalan kaki la balik." Saya rasa nenek saya terus tumbang ke lantai. Otai tak? Otai beb, otai. He's got balls (translate: dia ada bebola).

Dia lupa perintah berkurung kot. Kalau terserempak dengan tentera masa tu, tak ada-lah aku blogging pada masa ini, dan emak aku mungkin dah jadi janda muda time tu.

Kemudian bapak saya kerja kerja kerja, daripada gaji-nya RM90.00 sebulan, sehinggalah melepasi RM90.00 sehari. Hebat, hebat.

'Otai Tiga Paku', kata orang-orang Imigresen

Tapi sepandai-pandai tupai melompat, akhirnya kena tembak dek Nik Aziz juga. Cerita ke-otai-an bapak saya akhirnya sampai ke pengetahuan DYMM Yang Di-Pertuan Agong. Bapak saya terus-lah dipanggil ke istana. Bila tengok bapak saya ni macam best aja, maka impressed la orang-orang istana dengan ke-otai-an bapak saya ni menjaga keamanan kampong. So dengan berbesar rumah Agong pun bagi la dia pingat kenang-kenangan iaitu Pingat Pangku Negara (PPN) ketika menyambut birthday baginda satu ketika dulu.

Gambar kenang-kenangan selepas acara sukaneka Istana Negara.


Bapak saya tak ambil kisah pun pingat tu. Dia kasi pada kami dua beradik buat main. Dia terus bekerja dengan anak-anak buah yang seramai ratusan orang, dealing dengan public yang be-ribuan orang setiap hari.

Seterusnya bapak saya, menjelang hari-hari akhirnya sebagai otai gomen telah dipindahkan semula ke Kuala Lumpur setelah menyelesaikan masalah kumpulan untuk berkuasa di Kuantan, Medan, Kem Vietnam Sungai Besi, LTAB Subang dan Tambak Johor. So bapak saya kerja-lah di markas kumpulan di Kompleks Wilayah dan HQ kumpulan di Damansara.

Bapak saya pemalas sebenarnya. Dia malas driving ke markas. Dia pergi ke markas naik bas Len Seng, RapidKL dan LRT. Bawa payung satu, beg buruk satu dan pakai uniform serta selipar jamban dengan perut buncitnya. Orang dalam bas semua pandang semacam.

'Ini officer tua mana ni, selekeh nak mati.' Mereka tak tau bapa saya sebenarnya otai in disguise.

Sekarang bapak saya dah bersara. Orang markas tak buat majlis perpisahan pun untuk dia masa dia nak bersara sebab dia orang benci pada bapak saya. Dia orang benci sebab bapak saya tak mau sambung kerja dengan mereka. Mereka risau sebab lepas ni dah tak ramai otai yang hardcore macam bapak saya.

Sekarang bapak saya jadi Hang Kebun di belakang rumah. Bapak saya bela pokok-mokok yang berwarna warni. Bapak saya kata dia tak mau kerja lagi. Dia mau Happy.

Bapak saya sedang bekerja di ofis baru-nya


Anak-anak buah bapak saya. 'Bagus-bagus diorang ni.
Tak pernah komplen," kata bapak saya.



Walau sudah tidak berkuasa lagi, bapak saya masih menjalankan tanggungjawab mengambil berat business family. Bapak saya selalu berkunjung ke markas keluarga tempat kelahirannya di Kampung Datuk Keramat untuk di-update oleh anak-anak buah tentang hal semasa. Bapak saya begitu concern dan teliti dalam mendengar masalah keluarga yang kadang-kadang ditimbulkan oleh keluarga lain untuk kuasa autonomi di kawasan jagaan bapak saya.


"Dia curi ayam kita? Ini dah melampau. Kita kena hapuskan si Corleoni tu."


Pendek kata, bapak saya masih seorang otai. Sekian saja-lah untuk hari ini, jumpa lagi di waktu dan rancangan yang sama seketika nanti. Saya Mohd. Nazmi melaporkan untuk Buletin Utama, kembali ke Sri Pentas.

Monday, December 22, 2008

Cerita Sepuluh Sen, Kaya & Miskin

Entah apa-lah yang sedang dia buat di Brisbane. Tak ada khabar berita.

Apa aku buat hari ini? Nothing. UTP tengah cuti sekarang. Mana ada orang sangat. Aku lain-lah. Postgraduate mana ada cuti panjang-panjang macam budak Undergraduate.

So duduk la baca buku di pantri apartment sambil minum Nescafe dan hisap Gudang Garam. Tak semena langit luar menjadi mendung. Dan begitu affecting sekali langit itu kepada aku, hati aku menjadi gusar kembali tentang keadaan ekonomi aku yang lintang-pukang sekarang.

Haih.

* * *

Pernah tak kita (bila aku kata 'kita', aku maksudkan golongan pertengahan, golongan middle class yang hidup sederhana tidak macam kapitalis pariah atau orang-orang korup yang jilat anus makhluk berkuasa demi empayar sendiri) masa kecil-kecil dulu teringin nak makan aiskrim?

"Tak ada duit-lah," kata emak.

Kita pun muncung. Rebel, protest. Demonstrasi dengan cara masing-masing. Bila nampak anak orang lain makan aiskrim yang emak mereka belikan dengan hanya hanya mengamakan polisi buka-beg-nah-duit, lagi-lah kita nak naik angin.

Masa itu aiskrim sepuluh sen je pun. Aiskrim yang teguh tegang besar panjang dalam icebox kedai runcit, ada warna-warna. Patahkan dua di tengah-tengah, jilat jilat hisap sedut sampai habis.

Dulu kalau kita simpan sepuluh sen then beli aiskrim, fuh! kalau boleh dengan plastik-plastiknya pun nak dimakan sekali. Bila beli tu rasa macam baru menang Grammy. Seronok nak mati. Kalau boleh nak simpan aiskrim tu buat piala di rumah. Makan pun sikit demi sikit, seminggu baru habis. Siapa-siapa mintak, boleh pergi mampus.

Punya-lah kita hargai apa yang kita beli. Sebab duit itu duit kita.

Macam juga orang-orang di sekeliling kita. Macam di kampus, contohnya. Tengok bezanya orang yang beli kereta dengan duit sendiri berbanding orang yang dapat kereta mak bapak bagi.

"Apa beza? Wa tatau. Wa keleta pun talak." Sabar Beng, sabar.

Yang beli kereta dengan duit sendiri ni, hui, jaga bukan main. Macam bini. Cuba kalau burung berakkan windshield, kalau boleh nak bunuh semua mergastua yang hidup dalam lingkungan radius sepuluh ribu kilometer dari kereta tu. Dalam bersih memanjang, satu ketul pasir pun tak ada. Body berkilat habis. Jaga bukan main.

Kalau yang jenis dapat kereta mak bapak bagi?

Ah. Lepak-lah. Kotor sikit saja pun kena tahi burung. Burung dah berak, apa nak buat? Kalau ada manusia berak dalam kereta pun dia tak kisah. Interior, aduhai. Ini apa? Kereta mayat pun lagi wangi. Lori sampah pun tak rupa macam ni. Kalau rosak? 'Helo bapak kereta dah jahanam. Boleh bank-in duit? Kalau nak bank-in-kan kereta baru pun lagi bagus.'

Point-nya, kita jarang appreciate benda yang kita dapat bukan dari usaha sendiri. Kita tend to take things for granted.

Kita selalu kata, 'alah kalau rosak beli saja-lah lain', 'alah, berapa sen sangat-lah kereta tu', 'alah nanti birthday mintak saja dengan mak bapak', alah alah alah.

Sayang sekali, kau anak-anak orang kaya mungkin banyak wang ringgit dalam kocek yang kau tadah dari mak bapak. Kau mampu beli apa saja, makan apa saja, pergi mana saja. Tapi kau takkan merasa betapa feel rasa-nya bila memperolehi sesuatu daripada hasil titik peluh kau sendiri. Daripada hasil simpanan kau yang berbulan-bulan. Hasil yang usahanya kau sendiri buat.

"Butut. Wa punya anak mau keleta itu ali. Wa tala luit, wa beli lia muto. Lua hali, accident. Cilakak."

* * *

Aku cakap secara jelasnya kepada umum. Kalau terasa, padan muka masih belum terlambat untuk menyedarinya.

Lagi baik aku jual tin kosong untuk dapat lima puluh sen nak beli aiskrim daripada meminta daripada emak macam kau, kau dan kau buat selalu. Sebab aku tau, aiskrim aku, walau macam mana sama pun dengan aiskrim kau, rasanya satu ribu peratus totally lebih sedap.

Dan sesungguhnya itu-lah satu-satunya perasaan seronok yang kau akan miss sampai kau mati jika kau terus begini. Automatis, kau sebenarnya-lah yang paling hina, paling miskin.

Ada sesiapa mau kata apa-apa?

Friday, December 19, 2008

Ah Beng - Sentimentalis yang Celaka

"Weh Ah Beng."

"Ya. Apa hat?"

Buruk betul kau dalam singlet berlubang-lubang sampai nampak nipple dan seluar pendek kelabu lusuh kau tu. Kau tak ada pakaian lain ke? Tapi aku tau kau banyak duit.

"Apa lu mau?"

"Tada. Saja panggil."


"Bodo punya orang," balas Ah Beng sambil mengibas kakinya yang panas agaknya. Itu-lah. Minum beer selalu. Mana tak panas! Selesai mengibas, dia menoleh kembali ke arah aku. Ada seketul tanah liat melekat di dahinya. Lucu.

"Lu talak kilija ka ini ali?"

"Tada. Cuti."

"Lu talak kilija lain ka?"


"Gua mana boleh ada kerja lain. Gua belajar lagi."

"Oo ya ya. Lu sana UTP kan? Petlonas aa. Waa manyak luit aa lu."

Butuh kau.

"Tada la. Mana ada."

"Haha lu jangan kincing sama gua la. Lu manyak luit punya, itu korek minyak punya kilija."

Bongok. Mana ada oil rig dekat UTP tu.

"Lu Ah Beng, lu pun banyak duit apa."

"Talak luit. Kalau ada luit wa talak kilija ini macam." Hah. Sama la macam aku. Kalau aku ada duit tak ada-lah aku melepak dengan kau dekat tepi pondok buruk kau ni. Mesti aku dah bawak kau pergi minum-minum di Starbucks paling-paling busuk pun. Tak pun di kedai sebelah pajak gadai miliknya di pekan, Ada kedai kopi kat situ.

Ah Beng terus mengibas kakinya. Patut-lah. Birat dan calar-balar. Terkena duri semak agaknya ketika mencangkul tadi. Perlahan Ah Beng meraup mukanya yang berpeluh. Tronoh ni memang panas berdesing.

Aku menyalakan rokok sambil melihat ke arah tanaman sayur Ah Beng. Ada sawi ada kangkung. Ada cili ada jagung. Bangla suruhan Ah Beng sedang mengejar kupu-kupu kuning yang bermain di tepi batas cili yang kini sudah berbuah ranum.

"Lu tada bini ka Beng?"

"Ada. Waa talak bini itu macam boleh gila wooo," balas Ah Beng serta-merta dengan muka seolah aku baru berkatakan sesuatu yang ridiculous. Boleh tahan gatal juga orang tua ni.

"Apa pasat lu tanya?"

"Tada la. Lu punya bini tada bising ka lu tak kaya-kaya sampai sekarang?"


"Huh! Cheh!" Terangkat aku mendengar bunyi aneh dari Ah Beng. Gila apa?

Ah Beng termenung sekejap. Mukanya yang berkedut-kedut semakin dikerutkan. Ada rupa scrotum.

"Wa punya bini aaa, itu Ah Mei aaa, manyak baik punya pelempuan! Itu macam pelempuan aa, ini time tada boleh jumpa lagi tau."

Aku mendengar teliti. Ah Beng mengorek telinga.

"Lia talak pelnah bising sama gua. Gua balik kilija aa, lia buat khopi. Gua lapar lia masak. Gua malah, dia diam saja tada lawan-lawan. Gua balik kilija lia duduk tepi pintu tunggu gua balik. Manyak baik. Manyak baik," sambung Ah Beng.

"Lia dengar wa punya cakap. Lia holmat sama gua, manyak punya holmat. Lia talak pelnah mintak luit sama gua, tapi gua kasi kalau ada luit lebih."

"Lu punya bini orang mana?"

"Tlonoh sana. Lia punya bapak lulu kilija sama itu towkay Tlonoh Mines. Manyak kaya wooo! Lulu gua duduk sini sama gua punya bapak aaa, bili lumah dua belat linggit, sana tepi stesen keletapi. Lia munya bapak aaa, minum alak aa, Blitish import lima pulu linggit I tell you!"

Gila babi apa? Arak sampai boleh beli rumah 4 bijik? Terus Ah Beng, terus. Aku dengar.

"Tapi lia aaa, lia talak pelnah kasi gua lasa...apa itu..lili lendah. Pendek lili? Gua talak ingat. "

Rendah diri?

"Haaa. Lendah lili. Hahaha." Bongok kau Beng.

"Lia munya family aaa, manyak lisau wa mau kawen sama lia. Gua punya Ah Ma pun manyak takut wooo."

Apa hal takut?

"Haiya. Lu nama saja Petlonas. Lu pikir aaa, lu punya bini minum alak lima pulu linggit aaa...lu gaji satu hali lua pulu sen. Lu mana mau cali luit?"

Betul.

"Tapi gua kawen sama lia Ah Mei. Gua sula itu..aa..who ai nee sama lia. Hahaha." Muka Ah Beng merah. Bangsat. Boleh blushing pulak dia kat sini. Nak je aku lempang.

"Ini zaman sikalang mana lu mau cali itu pelempuan macam? Lu talak luit lu boleh pegi mati la. Sap sap soi leh! Sei ya loh!"

"Gua maaanyak sayang sama lia Ah Mei. Wa malah-malah aaa, lia talak malah gua balik. Gua pelangai muda-muda manyak jahat aaa, lia talak komplen. Gua balik lumah mabuk pun lia talak malah punya. Gua punya baju seluat semua lia cuci. Lia punya bapak manyak angry wa talak luit macam lia. Tapi aa itu Ah Mei munya bapak kaya aa, mau kasi duit sama lia aaa, lia tamau. Lia kata lia ada gua. Itu macam aaa, lua dengar lua punya hidung jadi ini macam woo," sambung Ah Beng sambil mengembang kuncupkan lubang hidungnya. Muat botol racun ni kat dalam tu rasanya.

Ah Beng garu telinga lagi. "Lu aaa, nanti jumpa leng loi mau ajak ka-wen aa, talak luit lu jangan cali ploblem. Sikalang semua luit. Lu woh ai nee woh ai nee pun aaa, lu talak luit talak guna lu tau? Sikalang lu belak pun kena ala luit. Lua pulu sen," kata Ah Beng sambil mengangkat dua jari sambil senyum menayangkan sebatang gigi tua. Geram pula aku nak mematahkannya, kasi rompong terus.

"Habis lu punya bini kat mana sekarang?"

Senyum Ah Beng tiba-tiba lenyap. Tangannya diturunkan ke kakinya yang disilang. Jarinya menguis kesan tanah yang melekat di tapak kaki semasa mencangkul tadi. Matanya tertancap di kuisan jari. Sedih nampaknya. Shit. Aku ada salah cakap ke?

Ah Beng mengangkat muka dan bersandar lemah ke dinding pondok.

"Itu macam punya pelempuan, manyak baik. Manyak baik."

Memang sah-lah aku salah cakap. Ah Beng ni pun dah tua. Dekat 70 tahun umur dia. Takkan aku boleh tak terfikir yang kemungkinan besar bininya dah tak ada. Alah sial-lah macam ni. Beng, sori Beng. Aku tak tau Beng. Beng..

Ah Beng bangkit perlahan dan mengibas bahagian seluar bekas alas punggungnya tadi. Topi jerami buruknya disarung ke kepala. Cangkul tumpulnya dihentak-hentak ke lantai untuk meleraikan sisa tanah liat yang melekat. Mukanya masih sedih. Tanpa berkata apa-apa, dia melangkah pergi meninggalkan aku dalam keadaan yang super serba salah. Awkward.

"Beng...lu mau pegi mana..sorry la. Gua tak tau.." dengan perlahan aku menyusun ayat.

Ah Beng berhenti melangkah. Dengan perlahan dia berpusing. Mukanya marah.

"Apa soli-soli?! Lu soli lu naik loli la!"

Tamat jerkahan itu, dia berpaling semula dan melangkah pergi meninggalkan aku terpinga-pinga dan terkejut di belakang. Perasaan bersalah menyerang aku dari segala sudut. Ini kali pertama Ah Beng betul-betul marah pada aku. Salah aku juga, aku tak sensitif. Mata aku mula bergenang dengan air yang memedihkan.

Dari jauh aku berlari anak sambil melaung Ah Beng yang kini sudah hampir ke pintu keluar kebun, "Ah Bennnggg..!!Lu mau pigi mana?! Gua mau ikut!!"

Termengah-mengah aku apabila sampai di tepi Ah Beng yang sudah berada di atas basikalnya, bersedia untuk mengayuh. Cangkulnya diikat di sisi basikal.

"Gua mau balik lumah jumpa Ah Mei. Gua lindu. Gua talak boleh kilija ini macam. Ini semua lu munya pasat. Ciow," katanya tenang sebelum mengayuh basikal.




Whaatt??!! Kau sial Beng!! Sialll!!"