Followers

Mighty Jacksparrow is an Earth-based sub-intergalactic blogger who enjoys writing and in the same time entertaining his ever-amusing will-kill-to-read fans with sensationally hilarious and at times dramatic musings. This blog offers endless ideas and results; they might be charming most of the times but could be offending in some others. Therefore, it is always noble to remind that if you enjoy the pieces, carry on reading, but if they upset you, do quietly leave like the evening breeze and not like exploding diarrhea, which exactly what you will look like if you ever lose it on me. Enjoy! :D

Saturday, February 12, 2011

Sunyinya Satu Perjalanan


Dalam hidup ini yang kata orang seumpama roda, bila masanya turun naik kita tidak akan kita ketahui, walaupun masa depan kita telah kita rancangkan sebaik apa yang dijangka terjadi. Ada kalanya hari esok telah kita ketahui sesuatu yang baik akan terjadi; naik pangkat naik gaji, dapat rezeki berbuah hati. Ada kalanya hari esok telah kita ketahui sesuatu yang buruk akan terjadi; dibuang kerja ditolak permohonan, rugi duit hilang pedoman. Namun ada sesuatu lagi yang sering kita lupa (atau pada setiap ketikanya kita tidak pernah nak jangka) - hadiah Maha Esa untuk kita, sebagai pulangan terhadap apa yang kita telah dan akan perolehi.

Gembira hari ini bukan bererti gembira esok hari. Sedangkan yang hidup pun pasti mati.

Sering kali hati kita dibalut rasa kecewa dek bermacam benda yang tanpa apa bicara tak semena-mena merenggut senyuman yang tidak pernah lekang dari bibir - tanpa ada sebab tanpa ada cerita. Adakalanya kekecewaan ini datangnya daripada orang di sekeliling, benda di sekeliling, tapi selalunya kekecewaan yang terbuku dan menebal di hati datangnya dari hati sendiri. Betapa rasa kecewa kiranya apa yang dihajati itu tidak termakbul, dan lebih mengecewakan lagi kiranya sebab musabab di sebaliknya tidak pernah dan tidak akan kita ketahui. 

Dan sering kali juga kita tumpas di dalam perjuangan mencari cinta, mencari teman untuk berpimpinan tangan untuk meneruskan perjalanan yang entah bila akan tiba ke penghujung; mungkin esok, mungkin lusa, mungkin sepuluh tahun lagi. Kata orang satu hari nanti pasti ada yang akan menemani; persoalannya bila? Bila agaknya laluan sunyi yang perlu ditempuh seorang diri ini akan diceriakan oleh gelak tawa seseorang yang sudi menjadi teman? Bila agaknya akan ketemu?

Adakah jalan kita dan jalannya akan bertemu di depan lagi? Atau adakah dirinya telah melintas di hadapan kita tanpa kita sedari? Jauhkah lagi dirinya dari sini? Mungkin juga dia menurut di belakang tanpa kita berpaling, atau adakah dia juga seperti kita, menunggu dan berharap akan ketemu, sedangkan jalan kita telah bersimpang siur berlawanan arah tanpa akan ada peluang lagi untuk kita bertemu?

Betapa peritnya cinta, betapa pedihnya rindu.

Dan setiap kali mata kita terlihatkan awan merah ketika mendaratnya mentari di balik ufuk senja, setiap kali itu jugalah hati yang sebal ini bagai direnggut-renggut dari dalam. Dan bila terpadamnya warna cerah di langit yang semakin hitam, begitu jugalah rasanya warna masa depan yang akan ditempuh keseorangan tanpa ada teman yang sudi menemani. Nampaknya hari ini tiada rezeki lagi. Tidak ketemu orang yang dicari, mungkin esok boleh cuba lagi. Kata orang terus mencari jangan berhenti.

Kata orang. 

Tapi orang mungkin tidak mungkin, tidak pernah dan tidak akan merasai apa yang dilalui saban hari. Ataupun mereka pernah menjalani laluan penuh ranjau yang sama sehinggalah satu hari mereka terjumpa apa yang dihajati - teman yang dicari sama sejoli. Dan mungkin sekali kita juga begitu. Dan mungkin sekali kita tidak akan lepaskan teman itu buat selamanya. 

Benarkah?

Bila terlihat kembali, ramai saja yang sudah bertemu dengan teman perjalanan yang dicari, tapi pada satu masa memilih untuk kembali sendiri. Kenapa ya? Bukankah teman itu yang sering kalinya dicari, dipikat sepenuh hati? Kenapa akhirnya dibuang? Kata mereka ah! pasangan itu mudah dicari. Buang satu sepuluh yang mari. Katanya-lah. Tapi jika mudah pasangan itu dicari, kenapa sehingga hari ini masih ada yang meringkuk merintih melalui jalan-jalan hidup yang sunyi hanya bersendiri?

Mungkin nasib manusia itu macam-macam.

Dan mungkin pada ketika kamu semua membaca tulisan ini, terdetik di hati kamu yang apa aku katakan ini ada betulnya. Mungkin ada di antara kamu yang masih merintih kesunyian sehingga menitis air mata dek rasa tertekan yang mencengkam. Bergetar seluruh tubuh menghadapi kenyataan, dan terdetiklah di hati kamu satu persoalan: bilakah hari itu, hari aku akan berteman, akan terdatangkan?





Betul? 




No comments: